PENGERTIAN MALNUTRISI
Malnutrisi adalah kondisi yang terjadi ketika tubuh menerima asupan zat gizi yang tidak seimbang, baik karena kekurangan, kelebihan, maupun ketidakseimbangan jenis zat gizi tertentu. Kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, fungsi tubuh, serta kesehatan secara menyeluruh. Malnutrisi tidak hanya mencakup gizi kurang, tetapi juga gizi lebih dan kekurangan mikronutrien, seperti vitamin dan mineral, yang dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan (World Health Organization (WHO), 2024).
Menurut UNICEF (2024), malnutrisi pada anak terdiri atas tiga bentuk utama, yaitu gizi kurang (undernutrition), kekurangan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral (micronutrient deficiencies), serta kelebihan berat badan dan obesitas (overweight dan obesity). Ketiga kondisi tersebut dapat berdampak pada terganggunya pertumbuhan fisik, perkembangan otak, daya tahan tubuh, kemampuan belajar, serta meningkatkan risiko berbagai penyakit di kemudian hari.
HUBUNGAN PERILAKU SEDENTARY DENGAN RISIKO MALNUTRISI PADA ANAK
Perilaku sedentari dan malnutrisi memiliki hubungan yang saling berkaitan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dengan tingkat perilaku sedentari yang tinggi cenderung memiliki risiko lebih besar mengalami masalah status gizi dibandingkan anak yang lebih aktif bergerak (Rahma & Wirjatmadi, 2020).
Perilaku sedentary menyebabkan anak mengeluarkan energi lebih sedikit karena tubuh jarang bergerak. Jika asupan makanan tetap tinggi sementara energi yang digunakan rendah, akan terjadi ketidakseimbangan energi. Sebaliknya, apabila anak memiliki pola makan yang tidak memenuhi kebutuhan zat gizi, kondisi tersebut juga dapat menyebabkan kekurangan energi dan zat gizi. Ketidakseimbangan energi menjadi salah satu penghubung antara perilaku sedentary dan terjadinya malnutrisi (Rahma & Wirjatmadi, 2020).
Anak yang sering melakukan aktivitas sedentary, terutama menggunakan gawai atau menonton televisi dalam waktu lama, cenderung memiliki pola makan yang kurang sehat. Berbagai penelitian melaporkan bahwa anak dengan perilaku sedentary tinggi lebih sering mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak serta lebih sedikit mengonsumsi buah, sayur, dan makanan bergizi seimbang. Kebiasaan tersebut meningkatkan risiko terjadinya malnutrisi (Tsujiguchi et al., 2024).
Semakin lama waktu yang digunakan untuk aktivitas sedentary, semakin sedikit waktu yang tersedia untuk melakukan aktivitas fisik. Padahal, aktivitas fisik berperan penting dalam menjaga keseimbangan energi dan mendukung pertumbuhan yang sehat. Perilaku sedentary yang tinggi umumnya berkaitan dengan rendahnya aktivitas fisik, sehingga meningkatkan risiko gangguan status gizi (Cicih et al., 2023).
Hubungan antara perilaku sedentary dan malnutrisi tidak hanya ditunjukkan oleh meningkatnya risiko kelebihan berat badan dan obesitas, tetapi juga dapat berhubungan dengan gizi kurang apabila disertai kualitas asupan zat gizi yang rendah. Dengan demikian, perilaku sedentary merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memengaruhi status gizi anak melalui berbagai mekanisme yang saling berkaitan (Mayasari, 2025).